Yang Pergi Selalu Lebih Ringan

 Ada rasa bersalah yang tidak pergi setelah semuanya berhenti.

Anehnya, yang berhenti justru orangnya—bukan perasaannya.
Aku tinggal, dia menghilang.

Aku tahu ini salah.
Tapi mengetahui itu tidak otomatis membuatku bebas.
Ada bagian diriku yang masih terikat—bukan pada orangnya,
melainkan pada rasa diperhatikan yang ia tinggalkan.

Dia pergi hanya dengan satu kata maaf.
Tidak ada percakapan lanjutan.
Tidak ada tanggung jawab atas perasaan yang ditinggalkan.
Dua hari kemudian, ia kembali—seperti semua baik-baik saja.
Seolah luka punya tombol reset.

Aku mulai sadar:
yang membuatku terikat bukan dia,
tapi pola—datang, memberi hangat, pergi tanpa jejak, lalu muncul lagi.
Dan setiap kali, akulah yang harus merapikan sisa-sisanya.

Di titik ini aku paham:
bukan aku yang terlalu perasa.
tapi aku yang terlalu lama memikul tanggung jawab
atas sesuatu yang bukan milikku.


Aku berhak berhenti,
bahkan jika perasaanku belum sepenuhnya tenang.
Karena tanggung jawab emosional seharusnya tidak sepihak.
Dan rasa bersalah tidak boleh dijadikan rumah.

Komentar

Postingan Populer